Kisah 1
Sibuk Mengurus Hati
Suatu ketika, seorang Arab datang ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal karena karamahnya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir. Ketika orang itu tiba, Abul Khair sedang memimpin majlis simaan (acara mendengarkan orang membaca doa, -red.) di tengah para pengikutnya. Waktu itu Abul Khair membaca Al-Fatihah. ia tiba pada ayat: ghairil maghdubi alaihim, wa laz zalim. Orang Arab itu berfikir, ”?Bagaimana mungkin aku boleh berguru kepadanya. Baca Al-Quran saja, ia tidak boleh. Orang itu mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair. Begitu orang itu keluar, ia dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Ia mundur tetapi di belakangnya ada seekor singa lain yang menghalanginya. Lelaki Arab itu menjerit keras karena ketakutan. Mendengar teriakannya, Abul Khair turun keluar meninggalkan majlisnya. Ia menatap kedua ekor singa itu dan menegur mereka, Bukankah sudah kubilang jangan ganggu para tamuku!? Kedua singa itu lalu bersimpuh di hadapan Abul Khair. Sang sufi lalu mengelus telinga keduanya dan menyuruhnya pergi. Lelaki Arab itu kehairanan, Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar? Abul Khair menjawab, Aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Untuk kesibukanku memperhatikan hati ini, Tuhan menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Sedangkan kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta.
Kisah 2
Kisah Haji Abdullah bin al-Mubarak
Abdullah bin al-Mubarak hidup di Mekkah. Pada suatu waktu, setelah menyelesaikan ritual ibadah haji, dia tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“600.000,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” aku menangis. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasing yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”
“Ada seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama. “Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni.”
Ketika aku mendengar hal ini, aku terbangun dan memutuskan untuk pergi menuju Damaskus dan mengunjungi orang ini. Jadi aku pergi ke Damaskus dan menemukan tempat dimana ia tinggal. Aku menyapanya dan ia keluar. “ Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Aku Ali bin Mowaffaq, penjual sepatu. Siapakah namamu?”
Kepadanya aku mengatakan Abdullah bin al-Mubarak. Ia tiba-tiba menangis dan jatuh pingsan. Ketika ia sadar, aku memohon agar ia bercerita kepadaku. Dia mengatakan: “Selama 40 tahun aku telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Aku telah menyisihkan 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Tahun ini aku memutuskan untuk pergi ke Mekkah, sejak istriku mengandung. Suatu hari istriku mencium aroma makanan yang sedang dimasak oleh tetangga sebelah, dan memohon kepadaku agar ia bisa mencicipinya sedikit. Aku pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya. Tetanggaku mendadak menagis. “Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya. “Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Hatiku serasa terbakar ketika aku mendengar ceritanya. Aku mengambil 350 dirhamku dan memberikan kepadanya. “Belanjakan ini untuk anakmu,” kataku. “Inilah perjalanan hajiku.”
“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah, “dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”
******
Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang petapa termasyhur. Ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M.
*********
Kisah di atas diambil dari buku “Warisan Para Awliya” karya Farid al-Din Attar.
Edisi Inggris “Muslim Saints and Mystics: Episodes from the Tadhkirat al-Auliya (Memorial of the Saints) By Farid al-Din Attar”
Kisah 3
Orang itu pun melaksanakan anjuran sang sufi. Setelah itu, ia langsung tidur. Sepanjang malam ia bermimpi terus menerus minum air dari puluhan mata air. Ketika pagi menjelang, ia bergegas menemui sufi itu, ?Wahai Maulana, aku tak melihat Nabi dalam mimpiku. Aku begitu kehausan sehingga yang aku impikan hanyalah minum air dari puluhan mata air. Sekarang pun aku masih tersiksa dengan rasa dahaga.
Sang sufi berkata padanya, ?Makan ikan asin telah memberimu dahaga yang begitu menyiksa sehingga sepanjang malam engkau hanya bermimpi tentang air minum. Sekarang kau harus merasakan dahaga yang sama akan Rasul-Nya, barulah engkau boleh memeluk anugerah terindahnya!
Kisah 4
Umar bin Abdul Aziz dan Putranya
Belum lagi tabi”in yang agung amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz membersihkan tangannya dari mengebumikan jenazah khalifah sebelumnya Sulaiman bin Abdul Malik. Tiba-ti¬ba beliau mendengar suara gemuruh tanah di sekitarnya, lalu beliau berkata: “Ada apa ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah kendaraan-¬kendaraan khilafah wahai amirul mukminin, telah dipersiapkan agar Anda sudi menaikinya. Beliau memandang dengan sebelah matanya dan berkata dengan terputus-putus karena lelahnya dan rasa kantuknya setelah semalam tidak tidur: “Apa urusanku dengan kendaran ini?! Jauhkanlah ia dariku, semoga Allah memberkahi kalian. Dekatkan saja bighal milikku, karena itu cukup bagiku.”
“Bukankah Anda tahu bahwa setiap umat itu memiliki orang yang mulia, dan orang mulia bagi Bani Umayyah adalah Umar bin Abdil Aziz, dan dia akan dibangkitkan pada hari kiamat menjadi umat yang satu. ” (Muhammad bin Ali bin Al-Husein)
Belum sempat beliau meluruskan posisi punggungnya di atas bighal, tiba-tiba datanglah kepala prajurit yang berjalan mengawal di depan beliau beserta beberapa pasukan yang berjalan berbaris di kanan dan kiri beliau, sedang di tangan mereka menggenggam tombak yang ber¬kilau.
Khalifah berkata kepada kepala prajurit tersebut: “Aku tidak mem¬butuhkan Anda dan juga mereka. Aku hanyalah orang biasa dari kaum muslimin, berjalan sebagaimana mereka berjalan. Kemudian beliau berjalan dan orang-orangpun berjalan hingga sampai ke masjid, lalu dikumandangkanlah adzan serta seruan “shalat jama”ah .. shalat jama”ah .. ” Lalu manusia, memenuhi setiap sisi di dalam masjid. Setelah manusia berkumpul, Umar bin Abdul Aziz naik mimbar dan berkhot¬bah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya lalu mengucapkan shalawat atas Nabi kemudian berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah mendapat musibah de¬ngan urusan ini (yakni diangkatnya beliau sebagai khalifah), tanpa per¬timbangan dariku, tanpa aku memintanya, tanpa musyawarah di an¬tara kaum muslimin, maka aku lepaskan bai”at yang melilit leher kalian dariku .. lalu silahkan kalian memilih pemimpin lagi yang kalian ridhai.”
Maka manusia berteriak dengan satu suara: “Kami memilih Anda wahai amirul mukminin dan kami ridha kepada Anda. Kami serah¬kan urusan kami dengan harapan keberuntungan dan keberkahan.” Ketika beliau melihat suara-suara mulai tenang dan hatipun mulai ter¬tata, maka beliau bertahmid kepada Allah untuk kesekian kalinya dan mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad sebagai hamba dan utusan-Nya.
Beliau menganjurkan manusia untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, zuhud di dunia, berharap kenikmatan akhirat serta mengingat¬kan kepada mereka tentang kematian. Hingga sanggup melunakkan hati yang keras dan meneteskan air mata orang yang sadar akan do¬sanya. Begitulah nasihat yang keluar dari hati akan sampai di hati orang yang mendengarnya ..
Beliau mengeraskan suara agar semua orang mendengarnya: “Wa¬hai manusia, barangsiapa yang taat kepada Allah maka wajib untuk ditaati dan barangsiapa yang memerintahkan maksiat maka tiada ketaatan kepadanya siapapun dia. Wahai manusia, taatilah aku selagi aku mentaati Allah dalam memerintah kalian. Namun jika aku ber¬maksiat kepada Allah, maka tiada kewajiban sedikitpun bagi kalian untuk mentaatiku.”
Selanjutnya beliau turun dari mimbar dan beranjak menuju ru¬mahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Beliau ingin sekali istirahat barang sejenak setelah menguras tenaganya karena banyaknya kesi¬bukan pasca wafatnya khalifah sebelumnya.
Akan tetapi, belum lagi lurus punggungnya di tempat tidur, tiba-¬tiba datanglah putera beliau yang bernama Abdul Malik -ketika itu dia berumur 17 tahun- dia berkata: Abdul Malik : “Apa yang ingin Anda 1akukan wahai amirul mukminin?”
Umar bin Abdul Aziz: “Wahai anakku, aku ingin memejamkan mata barang sejenak karena sudah tak ada lagi tenaga yang tersisa,”
Abdul Malik : “Apakah Anda akan tidur sebelum mengembalikan hak orang-orang yang dizhalimi wahai amirul mukminin?”
Umar bin Abdul Aziz : “Wahai anakku, aku telah begadang semala¬man untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman, nanti jika telah datang waktu dhuhur aku akan shalat bersama manusia dan akan aku kembalikan hak orang-orang yang dizhalimi kepada pemiliknya, insya Allah.”
Abdul Malik : “Siapa yang menjamin bahwa Anda masih hidup hing¬ga datang waktu dzuhur wahai amirul mukminin?”
Kata-kata ini telah menggugah semangat Umar, hilanglah rasa kan¬tuknya, kembalilah semua kekuatan dan tekad pada jasadnya yang telah lelah, beliau berkata: “Mendekatlah engkau nak!” Lalu mende¬katlah putera beliau kemudian beliau merangkul dan mencium ke¬ningnya sembari berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menge¬luarkan dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu melaksanakan agamaku.”
Kemudian beliau bangun dan memerintahkan untuk menyeru ke¬pada manusia: “Barangsiapa yang merasa dizhalimi hendaklah se¬gera melapor.”
Siapakah gerangan Abdul Malik itu? Orang-orang berkata tentang beliau ini: “Sesungguhnya dialah yang memberikan motivasi kepada ayahnya hingga menjadi seorang ahli ibadah dan dia pula yang mem¬bimbing ayahnya menempuh jalan zuhud,” Maka marilah kita menel¬usuri kisah pemuda yang shalih ini dari awalnya.
Umar bin Abdul Aziz memiliki 15 anak, tiga di antaranya adalah wanita. Mereka seluruhnya memiliki prestasi dalam hal takwa dan ¬tingkat keshalihannya. Akan tetapi Abdul Malik bagaikan inti kalung di antara saudara-saudaranya, atau seperti bintang di tengah-tengah mereka. Beliau adalah seorang yang sopan, mahir dan cerdas, umur¬nya masih muda namun akalnya begitu dewasa.
Beliau tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta”ala sejak memasuki usia remaja. Beliau adalah orang yang paling mirip dengan Abdullah bin Umar di antara seluruh keturunan Al-Khathab. Khususnya dalam hal ketakwaan, rasa takutnya bermaksiat dan taqarrubnya kepada Allah dengan ketaatan.
Putera paman beliau yang bernama “Ashim bercerita: “Aku tiba di Damaskus dan menginap di rumah putera pamanku Abdul Malik yang ketika itu masih bujang. Kami shalat Isyak dan setelah itu masing-masing masuk ke kamar tidurnya. Lalu Abdul Malik men¬dekati lampu dan memadamkannya. Kamipun telah merasa kantuk. Ketika itu aku bangun di tengah malam dan ternyata Abdul Malik tengah berdiri shalat dalam kegelapan; sedangkan ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta”ala: “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya” (Asy-Syu”ara”: 205-207)
Kudengar dia mengulang-ulang ayat tersebut sembari menahan tangisnya dan akhirnya keluar pula air matanya yang tak mampu dia tahan. Setiap kali sampai di ayat tersebut dia mengulanginya sam¬pai-sampai aku berkata dalam hati: “Tangisan itu bisa menyebabkan kematiannya. “Maka tatkala aku melihatnya aku mengatakan: “Laa ilaha illallah wal hamdulillah” seperti yang biasa diucapkan orang tatkala terjaga dari tidumya, dengan harapan agar ia menghentikan tangisnya begitu mendengar ada orang yang bangun. Tatkala dia mende¬ngarku maka iapun diam dan aku tidak mendengar lagi isak tangis¬nya.
Pemuda keturunan Umar ini berguru kepada ulama-ulama senior pada zamannya hingga begitu akrab dengan Kitabullah, mengambil bagian yang banyak dari hadits Rasulullah Shalallahu “Alaihi wa Salam dan mendalami ilmu¬-ilmu agama. Hingga pada gilirannya beliau masuk dalam kelompok pertama dari fuqaha” penduduk Syam pada zamannya kendati masih muda belia.
Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah mengum¬pulkan para penghafal Kitabullah dan para fuqaha” di Syam lalu ber¬kata: “Sesungguhnya aku mengundang kalian untuk suatu urusan ke¬zhaliman yang terjadi dalam keluargaku (yakni pada masa khalifah Sulaiman), bagaimana pendapat kalian?”
Mereka menjawab: “Wahai amirul mukminin, sesungguhnya hal itu bukanlah tanggung jawab Anda, dan dosanya ditanggung oleh orang yang merampas hak tersebut. “Namun jawaban tersebut belum bisa memuaskan hati Umar. Kemudian salah seorang di antara mereka yang tidak sependapat dengan pendapat tersebut berkata: “Undang¬lah Abdul Malik wahai amirul mukminin, karena beliau layak untuk Anda undang karena ilmu” kefakihan dan kecerdasannya.” Tatkala putra Umar, yakni Abdul Malik masuk, amirul mukminin bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang harta yang diambil oleh anak-anak paman kita (Sulaiman) secara zhalim? Padahal orang-orang yang memiliki hak tersebut telah datang dan menuntutnya, sementara kita mengetahui hak mereka?”
Abdul Malik berkata: “Menurut hemat saya, hendaknya Anda mengembalikan barang tersebut kepada yang memiliki selagi Anda mengetahui urusannya, karena jika Anda tidak melakukannya maka Anda telah berserikat dengan orang yang mengambil hak dengan cara yang zhalim.” Menjadi teranglah hati Umar, menjadi tenanglah jiwa beliau dan hilanglah rasa gelisah yang menyelimuti hatinya.
Pemuda keturunan Umar ini lebih memilih hidup di bumi ribath ¬(perbatasan untuk menjaga serangan musuh) dan menetap di salah satu desa yang dekat dengannya daripada tinggal di Syam. Beliau menuju kesana dan beliau tinggalkan Damaskus yang penuh dengan taman yang subur, pepohonan yang rindang dan sungai-sungai yang indah.
Ayahanda beliau -kendati telah mengetahui betul akan keshalihan dan ketakwaannya- masih merasa khawatir jika anaknya tergelincir oleh tipu daya syetan, amat mendambakan jika anaknya senantiasa menjadi pemuda yang tegar. Beliau selalu ingin mengetahui urusan¬nya selagi mampu mengetahuinya. Beliau sama sekali tidak meremehkan urusan ini.
Maimun bin Mahran, menteri Umar bin Abdul Aziz sekaligus penasihat yang membantu beliau, bercerita: Aku menemui Umar bin Abdul Aziz sedangkan aku lihat beliau tengah menulis surat yang ditujukan untuk putera beliau Abdul Malik. Beliau bermaksud menasihati putranya, memberikan pengarahan, pe¬ringatan dan kabar gembira. Di antara yang beliau tulis adalah: “Amma ba”du, sesungguhnya orang yang paling berhak untuk men¬jaga dan memahami perkataanku adalah engkau. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta”ala -alhamdulillah- telah mengaruniakan kebaikan kepada kita sejak kecil hingga sekarang. Maka ingatlah wahai anakku akan karunia Allah kepadamu dan juga kepada kedua orang tuamu. Jauhilah olehmu sifat takabur dan merasa besar, karena hal itu adalah perbuatan syetan, sedangkan syetan adalah musuh yang nyata bagi orang-orang yang beriman.”
“Ketahuilah, sesungguhnya aku mengirim surat ini untukmu bu¬kan karena aku mendengar suatu berita tentangmu, aku tidak men¬dengar berita tentangmu kecuali yang baik-baik. Hanya saja telah sampai kepadaku tentang kebanggaanmu terhadap dirimu. Sean¬dainya rasa ujub ini muncul pada dirimu hingga menyebabkan aku tidak menyukainya, maka engkau akan melihat sesuatu yang tidak kau sukai dariku.”
Maimun berkata: “Kemudian Umar menoleh kepadaku dan berkata: “Wahai Maimun, sesungguhnya dalam pandangan mataku Abdul Malik begitu baik, namun aku khawatir jika kecintaanku kepadanya mengalahkan pengetahuanku terhadapnya, sehingga aku men¬dapatkan diriku seperti orang tua yang buta, pura-pura tidak tahu terhadap kekurangan anaknya.
Maka datanglah kepadanya, selidikilah keadaannya dan lihatlah apakah engkau melihat tanda-tanda kesombongan dan kebanggaan pada dirinya? Karena dia masih terlalu muda, belum tentu aman dari tipu daya syetan.”
Maimun berkata: “Maka aku melakukan perjalanan menemui Abdul Malik hingga bertemu dengannya. Aku meminta ijin lalu masuk. Ter¬nyata dia adalah seorang pemuda yang masih belia, pemuda yang ga¬gah, tampan dan tawadhu”, dia duduk di atas alas dari rambut. Dia mendekat kepadaku kemudian berkata: Abdul Malik : “Aku telah mendengar ayah menyebut-nyebut kebaik¬an Anda, saya berharap agar Allah memberikan manfaat karena Anda.”
Maimun : “Bagaimanakah keadaan Anda hari ini?” .
Abdul Malik : “Mendapatkan kebaikan dan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta”ala. Hanya saja saya takut jika aku terpedaya oleh sikap husnudhan ayah kepadaku, padahal saya belum mencapai keutamaan sebagai¬mana yang beliau duga. Aku khawatir jika kecintaan beliau ke¬padaku telah mengalahkan pengetahuan beliau tentang diriku, sehingga hal itu menjadi bencana bagiku.”
Maimun: (Aku sungguh heran bagaimana keduanya bisa sepakat pemikirannya) “Beritahukanlah kepadaku, dari mana engkau men¬cari nafkah?”
Abdul Malik: “Dari hasil bumi yang telah aku beli dari orang yang mendapatkan warisan dari ayahnya, aku membayarnya dengan uang yang tidak ada syubhat di dalamnya. Dengannya aku dapat mencukupi kebutuhanku,”
Maimun: “Apa yang kau makan setiap harinya?”
Abdul malik: “Sehari daging, sehari adas dan sehari makan cuka dan zaitun, dengan ini cukup untuk hidup.”
¬Maimun: “Apakah engkau merasa bangga dengan keadaanmu?” Abdul Malik : “Begitulah pada awalnya, namun manakala ayah menasihatiku dan memberikan pengertian kepadaku dan mengingatkan akan kekuranganku, maka Allah memberikan manfaat kepadaku dengannya, semoga Allah membalas kebaikan ayah dengan balasan yang baik.”
Kemudian aku (Maimun) duduk-duduk beberapa saat sambil ber¬bincang-bincang dengannya, maka aku tidak melihat pemuda yang lebih tampan, lebih berakal, lebih bagus adabnya darinya kendati masih sangat muda dan sedikit pengalamannya. Ketika waktu telah menjelang sore, seseorang mendatanginya dan berkata: “Semoga Allah menjadikan Anda sejahtera, kami telah me¬ngosongkannya .. ” Dia terdiam, lalu aku bertanya: Maimun: “Apa maksud dia berkata “kami telah mengosongkannya?”
Abdul Malik : “Kolam mandi.”
Maimun: “Ada apa dengan kolam mandi itu?”
Abdul Malik : “Orang-orang mengosongkannya untukku.”
Maimun: “Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang besar, hingga aku mendengar berita ini.”
Abdul Malik: (Dengan rasa takut dan membaca istirja” (inna lillahi wa inna ilaihi raji”un) “Lalu berkata: dalam hal mana wahai paman?”
Maimun: “Apakah kolam tersebut milikmu?”
Abdul Malik: “Bukan!”
Maimun: “Lantas atas dasar apa kamu menyuruh manusia keluar darinya kemudian engkau memakainya? Seakan engkau ingin me¬ngunggulkan dirimu di atas mereka dan engkau menjadikan ke¬hormatanmu di atas kehormatan mereka? Engkau juga mengganggu pemilik kolam tersebut untuk memenuhi kebutuhan hariannya dan engkau membuat orang-orang kecewa karena harus pulang lantaran tak boleh masuk.”
Abdul Malik : “Tentang pemilik kolam, dia telah merelakan dan mem¬berikan haknya kepadaku.”
Maimun: “Itulah pelayanan yang dengannya engkau dapat tercemari oleh takabur. Apa yang menghalangimu untuk masuk bersama manusia, sedangkan engkau seperti mereka juga?”
Abdul Malik : “Yang menghalangiku adalah, sebagian orang-orang mis¬kin masuk kolam tanpa mengenakan penutup, maka aku tidak suka melihat aurat mereka. Dan aku tidak bisa pula memaksa mereka untuk mengenakan penutup karena mereka akan menganggap seakan saya menggunakan kekuasaan saya yang mana saya memohon kepada Allah agar membersihkan kami dari tendensi semacam itu. Maka berilah nasihat kepadaku semoga Anda mendapatkan rahmat dari Allah, sehingga saya bisa mengambil manfaatnya. Dan berilah masukan agar saya bisa memecahkan persoalan ini.”
Maimun : “Tunggulah sampai orang-orang keluar semua dari kolam di malam hari dan mereka telah kembali ke rumah masing-masing, kemudian barulah kamu masuk kolam.”
Abdul Malik : “Baik, aku janji tidak akan masuk ke dalamnya di siang hari setelah hari ini.” Kemudian dia diam sejenak seakan memikir¬kan sesuatu. Lalu dia mengangkat kepalanya dan berkata: “Saya memohon kepada Anda agar tidak menyampaikan kabar ini kepada ayah, karena aku khawatir dia akan marah kepadaku. Aku takut jika sewaktu-waktu ajal tiba sedangkan beliau dalam keadaan tidak ridha kepadaku.”
Maimun berkata: “Jika amirul mukminin bertanya apakah aku me¬lihat suatu kejanggalan pada dirimu, maka apakah engkau rela jika aku harus berdusta kepada beliau?” Dia menjawab: “Tentu saja tidak, na”udzu billah, akan tetapi Anda bisa berkata: “Aku memang melihat sesuatu darinya, lalu aku telah menasihatinya dan memberikan gam¬baran kepadanya bahwa urusannya itu besar, kemudian dia mau mem¬perbaiki dirinya.” Karena ayah tidak akan meminta Anda untuk mem¬buka rahasia ini selagi Anda tidak menceritakan kepada beliau. Dan Allah Subhanahu wa Ta”ala telah menjaga beliau dari mengorek sesuatu yang menjadi rahasia.”
Maimun berkata: “Aku belum pernah melihat seorang anak dan orang tua semisal keduanya, semoga Allah merahmati keduanya.”
Semoga Allah meridhai khalifah rasyidin yang kelima Umar bin Abdul Aziz, semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada beliau di kuburnya dan juga Abdul Malik putra dan jantung hatinya. Semoga keselamatan menyertai mereka di hari perjumpaan dengan Ar-Rafiiqul A”la, keselamatan menyertai keduanya di hari kebangkitan bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.
Sumber: Shuwaru min Hayati At-Tabi”in
Kisah 5
| Rabiah al-Adawiyah, The Mother of The Grand Master |
| Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah dan bertanya, “Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun melebihi gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?” “Tidak,” jawab Rabiah dengan suara tegas. Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, “Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya. Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?” “Pasti,” jawab Rabiah tak kalah tegas. Lalu ia menjelaskan, “Kalau Tuhan tidak berkenan menerima tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti dari dosa, jangan simpan kata “akan” atau “andaikata” sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu.”
Memang ucapan sufi perempuan itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia seorang mistisi yang sangat tinggi derajatnya dan tergolong kelompok sufi periode awal. Ia memperkaya literatur Islam dengan kisah-kisah pengalaman mistiknya dalam sajak-sajak berkualitas tinggi. Sesungguhnya ia lebih dikenal sebagai seorang pendiri ‘agama cinta’ (mahabbah) dan ia pun dikenang sebagai ‘ibu para Sufi besar’ (The Mother of the Grand Master). Siapa sebenarnya ia yang kepergiannya dielu-elukan kaum ‘suci’ itu? Tiada lain ia adalah tokoh wanita bernama Rabiah Basri atau lebih dikenal sebagai Rabiah Al Adawiyah Al Bashriyah, lahir pada tahun 713 M di Basrah (Irak), dari keluarga yang hina dina. Sebagai anak keempat. Itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. Bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada di samping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya. Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pun dari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismail pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan. Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu. Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan siapa-siapa. “Ya Allah,” seru Ismail, “anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya.” Lalu Ismail menggumam, “Amin.” Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tidak punya apa-apa kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dirinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan. Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, “Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya. Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismail diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah. Ismail dan istrinya meninggal ketika Rabiah masih kecil. Begitu pula ketiga kakak Rabiah, meninggal ketika wabah kelaparan melanda kota Basrah. Dalam kesendirian itu, akhirnya Rabiah jatuh ke tangan orang yang kejam, yang lalu menjualnya sebagai budak belian dengan harga sangat murah. Majikan barunya pun tak kalah bengisnya dibandingkan dengan majikan sebelumnya. Setelah bebas, Rabiah pergi ke tempat tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basra. Di sini ia hidup bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil dari tanah, dan sebuah batu bata, adalah harta yang ia punyai dan teman dalam menjalani hidup kepertapaan. Praktis sejak saat itu, seluruh hidupnya hanya ia abdikan pada Allah swt. Berdoa dan berzikir adalah hiasan hidupnya. Saking sibuknya mengurus ‘akhirat’, ia lalai dengan urusan duniawi, termasuk membangun rumah tangga. Meski banyak pinangan datang, termasuk dari gubernur Basra dan seorang suci mistis terkenal, Hasan Basri, Rabiah tetap tak tertarik untuk mengakhiri masa lajangnya. Hal ini ia jalani hingga akhir hayatnya, pada tahun 801 M. Dalam perjalanan kesufian Rabiah, kesendirian, kesunyian, kesakitan, hingga penderitaan tampak lumer jadi satu; ritme heroik menuju cinta kepada Sang Ada (The Ultimate Being). Tak heran jika ia ‘merendahkan manusia’ dan mengabdi pada dorongan untuk meraih kesempurnaan tertinggi. Ia jelajahi ranah mistik, yang jadi wilayah dalam dari agama, hingga mendapatkan eloknya cinta yang tidak dialami oleh kaum Muslim formal. Menjadi Sufi dalam perjalanan Rabiah adalah “berlalu dari sekadar Ada menjadi benar benar Ada”. Sufisme Rabiah merupakan pilihan dari jebakan-jebakan ciptaan yang tak berguna. Karena demikian mendalam cintanya kepada Allah, Rabiah sampai tidak menyisakan sejengkal pun rasa cintanya untuk manusia. Sufyan Tsauri, seorang Sufi yang hidup semasa dengannya, sempat terheran-heran dengan sikap Rabiah. Pasalnya, Sufyan pernah melihat bagaimana Rabiah menolak cinta seorang pangeran yang kaya raya demi cintanya kepada Allah. Dia tidak tergoda dengan kenikmatan duniawi, apalagi harta. Cinta Rabiah tak dapat disebut sebagai cinta yang mengharap balasan. Justru, yang dia tempuh adalah perjalanan mencapai ketulusan. Sesuatu yang dianggap sebagai ladang subur bagi pemuas rasa cintanya yang luas, dan sering tak terkendali tersebut. Lewat sebuah doa yang mirip syair, ia berujar, “Jika aku menyembah-Mu karena takut pada api neraka maka masukkan aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu karena tamak kepada surga-Mu, maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu, maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku kesempatan untuk melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.” Perjalanan hidup Rabiah diwarnai dengan kekaribannya dengan situasi yang penuh keterbatasan; tinggal bersama kedua orang tua dan saudara saudaranya, dijual sebagai budak, menghamba pada tuannya hingga dibebaskan dari perbudakan, lalu hidup mengembara. Periode pertama ini dikenal sebagai periode asketik Rabiah. Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu. Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Periode yang kedua ini disebut sebagai periode Sufi, suatu periode tatkala Rabiah telah mencapai mahabbattullah (cinta pada Allah) sampai meninggal dan dipuji sebagai Testimony of Belief (Bukti Keimanan). Doris Lessing, seorang pengamat perjalanan hidup Rabiah, memberi kesimpulan bahwa sufisme tokoh wanita ini adalah bentuk sufisme cinta. Sejenis sufisme yang menempatkan cinta (mahabbah) sebagai panggilan jiwanya. Sufisme yang tak bermaksud larut dalam ekstatik (gairah yang meluap) serta tak berdimensi pemujaan atau pemuliaan dan metode-metode tambahan yang penuh dengan sakramen. Kendati demikian, pengalaman Rabiah adalah pengalaman orang suci yang sulit ditiru oleh awam. Memahami Rabiah sangat sulit. Seperti masa hidupnya, Rabiah tampaknya jauh dari kita. Selain itu, kesempurnaan yang menyertainya tak mungkin dapat ditandingi oleh orang-orang biasa. Apa yang dilakukan Rabiah dalam hidupnya sebetulnya adalah ikhtiar untuk membiasakan diri ‘bertemu’ dengan pencipta-Nya. Di situlah ia memperoleh kehangatan, kesyahduan, kepastian, dan kesejatian hidup. Sesuatu yang kini sangat dirindukan oleh manusia modern. Karena itu, menjadi pemuja Tuhan adalah obsesi Rabiah yang tidak pernah mengenal tepi dan batas. Tak heran jika dunia yang digaulinya bebas dari perasaan benci. Seluruhnya telah diberikan untuk sebuah cinta. Meskipun hidup Rabiah seperti berlangsung linear dan konstan, seluruh energi hidupnya dia abdikan untuk cinta, Rabiah memberi tahu kepada kita bahwa hidup memang tidak sederhana, seperti yang dijalaninya. Hidup itu begitu rumit, kadang kadang ada kemesraan dan kadang-kadang ada kehidmatan bertahta. Rabiah wafat dengan meninggalkan pengalaman sufistik yang tak terhingga artinya. Hikmah yang ditinggalkan sangat berharga dan patut kita gali sebagai ‘makrifat’ hidup. Menarik kita simak beberapa doa Rabiah yang dipanjatkan pada waktu larut malam, di atas atap rumahnya: “O Tuhanku, bintang-bintang bersinar gemerlapan, manusia telah tidur nyenyak, dan raja-raja telah menutup pintunya, tiap orang yang bercinta sedang asyik masyuk dengan kesayangannya, dan di sinilah aku sendirian bersama Engkau.” Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, “Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu.” Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, “Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu. Tentang masa depannya ia pernah ditanya oleh Sufyan Tsauri: “Apakah engkau akan menikah kelak?” Rabiah mengelak, “Pernikahan merupakan kewajiban bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah.” “Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?” “Karena telah kuberikan seluruh hidupku,” ujar Rabiah. “Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?” Dengan tulus Rabiah menjawab, “Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.” |